Paparan Asbes dan Resiko Kanker
1. Apa itu Asbestos (disingkat Asbes)
Asbes adalah nama yang diberikan kepada sekelompok mineral yang terbentuk secara alami di lingkungan sebagai kumpulan serat-serat yang bisa dipisahkan ke bentuk benang-benang tipis yang tahan lama. Serat-serat ini tahan terhadap panas, api dan bahan kimia dan tidak menghantarkan arus listrik. Untuk alasan inilah asbes digunakan secara luas di banyak industri.
Secara kimiawi, mineral asbes adalah senyawa silica, artinya mengandung atom-atom silikon dan oksigen dalam struktur mulekulnya.
Mineral asbes dibagi ke dalam dua grup besar: Serpentine asbes dan amphibole asbes. Serpentine asbes termasuk di dalamnya mineral chrysotile, yang mempunyai serat bergelombang panjang dan bisa di rangkai/di anyam. Chryssotile asbes adalah bentuk yang paling banyak di aplikasikan secara komersil. Amphibole asbes termasuk di dalamnya mineral actnolite, tremolite, anthophyllite, crocidolite dan amosite. Amphibole asbes mempunyai serat tajam seperti jarum yang lebih rapuh daripada serpentine asbes dan lebih terbatas kemampuan untuk difabrikasi.
Asbes sudah di tambang dan digunakan secara komersial di Amerika Utara sejak akhir tahun 1800-an. Penggunaannya meningkat selama Perang Dunia II. Sejak itu asbes digunakan di banyak industri. Sebagai contoh, industri konstruksi dan gedung sudah menggunakannya untuk memperkuat semen dan plastik sebagai isolasi/penyekat, atap, lapisan anti-bakar dan bahan kedap suara. Industri perkapalan juga menggunakan asbes untuk menyekat boiler, pipa uap dan pipa air panas. Industri otomotif menggunakan asbes sebagai bahan kampas rem dan kopling. Asbes juga digunakan di ceiling dan keramik lantai; cat, pelapis coating, lem dan plastik. Sebagai tambahan, asbes juga ditemukan di produk perkebunan yang mengandung vermicullite dan pensil crayon.
Di akhir tahun 1970, the U.S. Consumer Product Safety Commission (CPSC) melarang penggunaan serat asbes pada produk wallboard dan tempat untuk alat pemadam kebakaran, karena bahan asbes bisa terlepas ke lingkungan pada saat penggunaan produk tersebut. Sebagai tambahan, pabrik pengering rambut berhenti secara sukarela menggunakan asbes pada produk mereka pada tahun 1979.
Pada tahun 1989, the U.S. Environmental Protection Agency (EPA), badan yang mengawasi AMDAL, melarang penggunaan asbes walaupun masih membolehkan penggunaan produk yang di buat sebelum 1989. EPA juga membuat regulasi yang mengharuskan managemen sekolah untuk memeriksa akan terdapatnya bahan asbes yang rusak pada bangunan sekolah mereka untuk mengurangi paparan asbes dengan membuang atau menyingkirkan bahan asbes tersebut.
Pada bulan Juni tahun 2000, CSPC menyimpulkan bahwa resiko paparan serat asbes pada pensil crayon pada anak-anak rendah. Walaupun begitu, pabrik crayon Amerika setuju untuk mengurangi bahan talc pada produk mereka.

Pada bulan Agustus tahun 2000, EPA menyelenggarakan sejumlah tes untuk mengevaluasi resiko yang merugikan konsumen akan dampak yang ditimbulkan oleh vermicullite yang terkontaminasi asbes. EPA menyimpulkan bahwa paparan asbes pada produk vermiculite minimal. EPA merekomendasikan konsumen untuk mengurangi resiko penggunaan vermiculite selama aktifitas perkebunan dengan mengurangi jumlah debu-debu yang dihasilkan selama penggunaan vermiculite. Secara spesifik, EPA menyarankan penggunaan vermiculite di luar ruang atau di ruang dengan ventilasi dan menghindari membawa debu-debu dari vermiculite ke dalam rumah melalui baju yang dipakai
Peraturan yang di terangkan di atas sejalan dengan pandangan publik mengenai bahaya asbes sehingga menghasilkan pengurangan yang signifikan terhadap penggunaan asbes setiap tahunnya. Konsumsi domestik asbes berjumlah 803000 metrik ton pada tahun 1973 dan menurun drastis menjadi 2400 metrik ton pada tahun 2005.
Orang-orang mungkin terpapar asbes di tempat mereka bekerja, di lingkungan mereka atau di rumah mereka. Jika produk berbahan asbes terbentur, sejumlah kecil serat asbes terlepas ke udara. Ketika serat asbes terhirup, mereka akan terperangkap di paru-paru dan menetap dalam jangka waktu yang lama. Selama itu serat-serat ini akan mengumpul dan menyebabkan luka dan radang yang berakibat gangguan pernafasan dan bisa menjadi masalah yang lebih serius.
Asbes sudah di klasifikasikan sebagai karsinogen pada manusia (bahan yang menyebabkan kanker) oleh Departemen Kesehatan Amerika (U.S. Department of Health and Human Services), EPA dan International Agency for Research on Cancer. Studi menunjukkan bahwa paparan asbes meningkatkan resiko kanker paru-paru dan mesothelioma ( sejenis kanker pada memran tipis pada garis dada dan abdomen yang jarang ditemui)
Walaupun jarang, mesothelioma adalah bentuk kanker yang umum yang dihubungkan dengan paparan asbes. Sebagai tambahan, beberapa studi juga menghubungkan paparan asbes dengan masalah gastrointestinal dan kanker colorectal sebagaimana juga peningkatan resiko kanker ternggorokan, ginjal, esophagus dan kantung empedu. Akan tetapi bukti-buktinya masih belum di simpulkan.
Paparan asbes meningkatkan resiko asbesis ( kondisi radang pada paru-paru yang menyebabkan nafas pendek, batuk dan kerusakan paru permanen, kelainan pleural termasuk plak pleural (perubahan pada membran yang mengelilingi paru-paru), penebalan pleural. Wlaupun plak pleural bukanlah penyebab kanker paru, tapi bukti-bukti menyarankan orang-orang dengan penyakit pleural yang disebabkan terpapar asbes mungkin akan beresiko kanker paru.
Semua orang bisa terpapar asbes selama hidupnya. Asbes tingkat rendah terdapat di udara, air dan tanah. Bagaimanapun, kebanyakan orang tidak menjadi sakit akibat paparan ini. Orang-orang yang langsung menjadi sakit biasanya mereka yang secara regular terpapar asbes dan kebanyakan mereka yang bekerja di lingkungan.
.Sejak awal tahun 1940, jutaan pekerja Amerika terpapar asbes. Bahaya kesehatan akibar asbes sudah diketahui pada pekerja di galangan kapal, tambang asbes, pabrik tekstil asbes, pekerjaan penyekatan pada konstruksi gedung dan lain-lain. Pekerja peledakan, pekerja penghilangan/penyingkiran asbes, pemadam kebakaran dan pekerja otomotif mungkin terpapar serat fiber.
Studi evaluasi resiko kanker pada mekanik otomotif yang terpapar asbes pada saat memperbaiki kampas rem sangat terbatas, tapi bukti atau saksi menyarankan tidak ada tingkat aman dari paparan asbes. Sebagai hasilnya, regulasi pemerintah dalam melindungi keamanan pekerja yang berhubungan dengan asbes lebih ketat dan meningkat dibandingkan masa lalu.

Individu yang terlibat dalam tim SAR dan pembersih bekas reruntuhan WTC, 11 Sept 2001 di kota New York adalah sekelompok orang dengan resiko tinggi pnyakit yang berhubungan dengan asbes. Karena asbes digunakan pada konstruksi Tower Utara WTC dan ketika gedung ini diserang, ratusan ton asbes terlepas ke udara. Mereka yang beresiko tinggi termasuk didalamnya adalah polisi, pemadam kebakaran, paramedis dan pekerja konstruksi dan relawan yang bekerja di reruntuhan (di Ground Zero). Selain itu adalah mereka yang tinggal di dekat area WTC dan mereka yang bersekolah di sekitarnya. Mereka ini membutuhkan pemeriksaan lanjutan kesehatan akibat konsekuensi paparan reruntuhan gedung.
Satu studi menemukan hampir 70% pekerja dan tim rescue WTC menderita simtom pernafasan pada saat bekerja. Studi menjelaskan hasil dari program pemeriksaan medis untuk mengidentifikasi efek WTC terhadap kesehatan pekerja. Studi menunjukkan 28 % dari mereka mengalami fungsi paru abnormal dan 61% dari mereka yang sebelumnya tidak mempunyai masalah kesehatan setelah WTC mengalami simtom pernafasan. Bagaimanapun, penting untuk di catat bahwa simtom ini mungkin lebih berhubungan dengan sebu-debu lain yang bukan asbes.
Secara umum, mereka yang mengidap penyakit yang berhubungan dengan asbes tidak menunjukkan gejala sakit untuk waktu yang lama. Butuh waktu 10-40 tahun untuk sebuah simtom kondisi yang berhubungan dengan asbes muncul
Ada beberapa bukti dari anggota keluarga pekerja yang salah satu keluarga mereka terpapar asbes menghadapi resiko mesothelioma. Resiko ini mereka anggap sebagai akibat paparan serat asbes yang terbawa ke rumah dari tempat bekerja. Beberapa pegawai mungkin harus mandi dan mengganti pakaian mereka sebelum meninggalkan tempat kerja, menyimpan pakaian kerja mereka secara terpisah dan mencuci pakaian mereka di rumah terpisah dengan pakaian lainnya.
Kasus mesothelioma juga ditemukan pada individu tanpa paparan asbes di tempat kerja mereka tetapi tinggal di dekat tambang asbes.
Beberapa faktor dapat membantu mengetahui bagaimana paparan asbes berdampak terhadap seseorang termasuk diantaranya:
- Dosis ( berapa banyak paparan asbes thd seorang individu
- Durasi ( berapa lama individu itu terpapar asbes
- Ukuran, bentuk serat asbes
- Sumber paparan
- Faktor resiko individu seperti : perokok, dan penyakit paru bawaan sebelumnya.
Walaupun semua bentuk asbes di kategorikan sebagai material berbahaya
Meskipun semua bentuk asbes dianggap berbahaya, berbagai jenis serat asbes dapat berhubungan dengan berbagai risiko kesehatan. Sebagai contoh, hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk asbes amphibole mungkin lebih berbahaya daripada chrysotil, terutama untuk mesothelioma risiko, karena mereka cenderung tinggal di paru-paru untuk jangka waktu yang lebih lama
Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa kombinasi dari merokok dan pemaparan asbes sangat berbahaya. Perokok yang juga terkena asbes mempunyai resiko kanker paru-paru berkembang yang lebih besar daripada risiko individu dari asbes dan individu merokok ditambahkan bersama-sama. Ada bukti bahwa berhenti merokok akan mengurangi resiko kanker paru-paru di antara pekerja yang terpajan asbes (4). Merokok dikombinasikan dengan paparan asbes tampaknya tidak meningkatkan risiko mesothelioma (9). Namun, orang-orang yang terkena asbes di tempat kerja setiap saat selama hidup mereka atau yang curiga mereka mungkin telah terpapar seharusnya tidak merokok.
Individu-individu yang telah terpapar (atau curiga mereka telah terkena) untuk serat asbes di tempat kerja, melalui lingkungan, atau di rumah melalui kontak keluarga harus menginformasikan dokter mereka tentang sejarah eksposur mereka dan apakah mereka mengalami gejala apapun. Gejala penyakit yang berhubungan dengan asbes mungkin tidak menjadi jelas selama beberapa dekade setelah eksposur. Hal ini terutama penting untuk memeriksa dengan dokter jika ada gejala berikut :
o Sesak napas, mengi, atau suara serak.
o batuk yang terus-menerus memburuk dari waktu ke waktu.
o Darah dalam dahak (cairan) batuk dari paru-paru.
o Rasa sakit atau mengencang di dada.
o Kesulitan menelan.
o Pembengkakan pada leher atau wajah.
o Hilang nafsu makan.
o Berat badan.
o Kelelahan atau anemia.
Sebuah pemeriksaan fisik secara menyeluruh, termasuk x-ray dada dan tes fungsi paru-paru, mungkin disarankan. Rontgen Dada x-ray saat ini alat yang paling umum digunakan untuk mendeteksi penyakit yang berhubungan dengan asbes. Namun, penting untuk dicatat bahwa x-ray dada tidak dapat mendeteksi serat asbes di paru-paru, tetapi mereka dapat membantu mengidentifikasi tanda-tanda awal penyakit paru-paru akibat paparan asbes.
Penelitian telah menunjukkan bahwa computed tomography (CT) (serangkaian gambar rinci daerah-daerah di dalam tubuh diambil dari berbagai sudut, gambar-gambar yang dibuat oleh komputer yang dihubungkan ke mesin x-ray) mungkin lebih efektif daripada konvensional x-ray dada di mendeteksi asbes paru-paru yang berhubungan dengan kelainan pada individu yang telah terpapar asbes.
Sebuah biopsi paru-paru, yang mendeteksi mikroskopik serat asbes di potongan jaringan paru-paru dikeluarkan dengan pembedahan, adalah tes yang paling dapat diandalkan untuk mengkonfirmasikan adanya kelainan yang berhubungan dengan asbes. Sebuah bronkoskopi adalah tes invasif kurang dari biopsi dan mendeteksi serat asbes dalam material yang dibilas keluar dari paru-paru. Penting untuk dicatat bahwa tes ini tidak dapat menentukan berapa banyak asbes seorang individu mungkin telah terpapar ke atau penyakit apakah akan mengembangkan. Serat asbes juga dapat dideteksi dalam air seni, lendir, atau kotoran, tetapi tes ini tidak dapat diandalkan untuk menentukan berapa banyak asbes mungkin dalam individu paru-paru.
SARAN MENGHINDARI PAPARAN ASBES
1. Bersihkan bagian tubuh setelah kontak langsung/menyentuh asbes dengan air dan cairan/sabun pembersih.
2. Bagi anda yg senang bongkar rem (cakram) mobil/motor/sepeda, kampas rem biasanya terbuat dari bahan Asbes. Bersihkan tangan setelah memegang kampas. Hindari kebiasaan makan/ngemil atau merokok sambil bekerja dibengkel. Sedikit banyak tanpa kita sadari, mungkin ada partikel asbes yg terlepas ke tangan dan masuk ke mulut. Jangan mendekatkan kampas rem ke hidung.
Jika ada pakailah kampas rem yang bebas asbes
3. Hindari pemakaian atap dari Asbes. Kalaupun sudah Anda gunakan, pasang plafon untuk membatasi ruangan dengan atap. ( Banyak warung kecil di Jakarta menggunakan atap asbes tanpa adanya pembatas ke ruangandi bawahnya, sementara di ruangan warung itu orang-orang makan dengan lahap.
4. Walaupun harus diakui, asbes juga berguna bagi berbagai hal ( karena sifatnya yang tahan panas,api,dll), jika memungkinkan hindari penggunaannya dan mengganti dengan bahan yang setara dan lebih aman. Di banyak negara, penggunaan asbes untuk atap/dinding rumah sudah di larang. Tapi di Indonesia belum.
5. Bagi pekerja bangunan, ikuti prosedur keselamatan sebagaimana mestinya.





